SD NEGERI DANUREJO 1

Dusun Brontokan Desa Danurejo, RT.1/RW.6, Telukan, Danurejo, Kec. Mertoyudan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah 56172 .

SD NEGERI DANUREJO 1

Dusun Brontokan Desa Danurejo, RT.1/RW.6, Telukan, Danurejo, Kec. Mertoyudan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah 56172 .

SD NEGERI DANUREJO 1

Dusun Brontokan Desa Danurejo, RT.1/RW.6, Telukan, Danurejo, Kec. Mertoyudan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah 56172 .

SD NEGERI DANUREJO 1

Dusun Brontokan Desa Danurejo, RT.1/RW.6, Telukan, Danurejo, Kec. Mertoyudan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah 56172 .

SD NEGERI DANUREJO 1

Dusun Brontokan Desa Danurejo, RT.1/RW.6, Telukan, Danurejo, Kec. Mertoyudan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah 56172 .

Thursday, October 24, 2024

Praktikum IPA di SD Percobaan Mengamati Sifat-Sifat Magnet

 1. Praktikum IPA di SD Percobaan Mengamati Sifat-Sifat Magnet 



A. TUJUAN
Untuk menjelaskan tentang sifat-sifat magnet (kutub sejenis akan tolak menolak, kutub tak sejenis tarik menarik )

B. ALAT DAN BAHAN
1. Magnet batang 2 buah.
2. Statis.
3. Benang secukupnya.

C. CARA KERJA
1. Beri tanda S untuk kutub selatan dan U untuk kutub utara pada kedua magnet batang yang tersedia.
2. Gantungkanlah salah satu magnet dengan menggunakan benang pada statis.
atau letakkan 1 magnet di atas meja
3. Dekatkan kutub selatan magnet kedua yang dipegang pada kutub selatan magnet batang yang di gantung secara perlahan-lahan. Amati apa yang terjadi pada magnet batang yang digantung.
4. Dekatkan kutub utara magnet yang di pegang pada kutub selatan magnet batang yang digantung secara perlahan-lahan. Amati apa yang terjadi pada magnet batang yang digantung.
5. Dengan cara yang lama, dekatkan kutub selatan magnet yang dipegang pada kutub utara magnet yang digantung. Amati apa yang terjadi.
6. Dekatkan kutub utara magnet yang dipegang pada kutub utara magnet yang digantung. Amati apa yang terjadi ? 
7. Buatlah kesimpulan bersama kelompokmu!

2. Praktikum IPA di SD Percobaan Mengamati Sifat-Sifat Magnet 


A. TUJUAN
Untuk menjelaskan tentang sifat-sifat magnet ( magnet akan selalu menghadap ke arah utara-selatan )

B. ALAT DAN BAHAN
1. Magnet batang 2 buah.
2. Statis.
3. Benang secukupnya.


C. CARA KERJA
1. Beri tanda S untuk kutub selatan dan U untuk kutub utara pada kedua magnet batang yang tersedia.
2. Gantungkanlah salah satu magnet dengan menggunakan benang pada statis.
3. tarik atau putar magnet ke segala arah, lalu diamkan. apa yang terjadi ?
4. ulangi kegiatan nomor 3 berulang kali
5. kutub magnet akan menghadap ke arah mana ?
6. Butalah kesimpulan bersama kelompokmu!

3. Praktikum IPA di SD Percobaan Mengamati Sifat-Sifat Magnet 




A. TUJUAN
Untuk menjelaskan tentang sifat-sifat magnet ( magnet akan menarik benda-benda magnetis )

B. ALAT DAN BAHAN
1. Magnet batang 2 buah.
2. Statis.
3. Benang secukupnya.
4. Benda :kertas, peniti, klip, pensil, tutup bulpen, lidi/ tusuk gigi, sendok, tomat, daun, plastik, karet gelang

C. CARA KERJA
1. Letakan sebuah magnet batang di atas meja
2. letakan benda kertas besi, aluminium, kaca, seng, kayu, karet, plastik, baja, peniti , jarum, klip kertas satu persatu di dekat magnet
3. aamati apa yang terjadi?
4. Buatlah tabel pengamatan, benda apa saja yang dapat ditarik oleh magnet ?
5. Benda apa saja yang tidak dapat ditarik oleh magnet ?
6. Buatlah kesimpulan bersama temanmu 

4. Praktikum IPA di SD Percobaan Mengamati Sifat-Sifat Magnet 

     





A. TUJUAN
Untuk menjelaskan tentang sifat-sifat magnet ( magnet dapat menembus benda )

B. ALAT DAN BAHAN
1. Magnet batang 1 buah.
2. kertas
3. 5 buku 
4. Benda magnetis ( jarum, peniti, atau paku )

C. CARA KERJA
1. Letakan benda magnetis di atas kertas HVS
2. letakan megnaet dibawahnya 
3. aamati apa yang terjadi?
4. Ulangi percobaan diatas dengan mengganti kertas HVS dengan lainnya 
5. Ganti kertas HVS dengan kertas karton, manila atau  buku 
4. Buatlah tabel pengamatan, benda apa saja yang dapat ditarik oleh magnet ?
5. Benda apa saja yang bisa ditembus oleh magnet ?
6. Buatlah kesimpulan bersama temanmu 



5. Praktikum IPA di SD PERCOBAAN BENTUK MEDAN MAGNET 



A. TUJUAN
Menunjukan bentuk medan magnet sebuah magnet batang dengan serbuk-serbuk besi.

B. ALAT DAN BAHAN   
1. Karton putih 1 lembar / kertas putih.
2. Magnet batang 1 buah.
3. Serbuk-serbuk besi secukupnya.

C. CARA KERJA
1. Letakan sebuah magnet batang di atas meja
2. Peganglah selembar kertas karton putih di atas meja tersebut.
3. Taburkan serbuk besi secara merata di atas karton, kemudian ketuklah karton itu secara perlahan beberapa kali.
4. Amatilah dan gambarkan pola-pola yang dibentuk serbuk-serbuk besi itu.
5. Dari hasil pengamatan anda buatlah kesimpulan tentang medan magnet.

Blog Rangkuman Koneksi Antar Materi - Modul 3.1 Pengambilan Keputusan Berbasis Nilai-Nilai Kebajikan Sebagai Pemimpin

 Assalamualaikum Warrahmatullah Wabarakatuh.

Perkenalkan saya Wiwin Nurchayati, CGP Angkatan 11 Kab. Magelang dari SD Negeri Danurejo 1. 

Pada artikel ini saya akan membahas modul 3.1 CGP. Dalam modul 3.1 ini kita belajar bagaimana mengambil keputusan berdasarkan nilai-nilai kebajikan sebagai pemimpin. Sebagai pemimpin pembelajaran, pengambilan keputusan berdasarkan nilai-nilai kebajikan universal sangat dibutuhkan oleh seorang guru atau kepala sekolah.

Bagaimana filosofi Ki Hajar Dewantara dengan Pratap Triloka memiliki kaitan dengan penerapan pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin?

Filosofi Ki Hajar Dewantara , salah satu tokoh pendidikan Indonesia yang dikenal dengan "Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani," menekankan tiga prinsip utama:

  • ·         Ing Ngarsa Sung Tuladha: Seorang pemimpin/guru harus memberi contoh yang baik.
  • ·         Ing Madya Mangun Karsa: Seorang/guru pemimpin harus bisa memotivasi dan menginspirasi di tengah-tengah kelompoknya.
  • ·         Tut Wuri Handayani: Seorang pemimpin/guru harus memberikan dorongan dan dukungan dari belakang, mendorong dan membiarkan yang dipimpin berkembang secara mandiri.

Dalam konteks pengambilan keputusan, filosofi ini memberikan pengajaran kepada kita bahwa seorang pemimpin harus memimpin dengan cara memberikan contoh yang baik, mendorong kreativitas dan partisipasi dari bawah, serta memberikan dukungan dan bimbingan yang diperlukan agar memberikan kesempatan kepada anggota timnya berkembang dan mengambil inisiatif.

Sedangkan Pratap Triloka merupakan pemikiran tentang keseimbangan dan harmoni dalam kehidupan. Dalam konteks pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin, filosofi Ki Hajar Dewantara dan Pratap Triloka dapat saling melengkapi:

  • ·         Keseimbangan dan Harmoni: Pratap Triloka mengajarkan pentingnya keseimbangan antara berbagai aspek kehidupan dan pemahaman mendalam. Seorang pemimpin yang mengintegrasikan prinsip ini akan mengambil keputusan yang mempertimbangkan berbagai dimensi dan dampak dari keputusan tersebut, serta keseimbangan antara kebutuhan individu dan kelompok.
  • ·         Contoh dan Inspirasi: Filosofi Ki Hajar Dewantara menggarisbawahi pentingnya memberi contoh dan inspirasi. Pemimpin yang memahami filosofi ini akan tahu bahwa keputusan mereka harus mencerminkan nilai-nilai yang ingin mereka tanamkan dan bahwa keputusan tersebut harus menginspirasi orang lain untuk berperilaku dan bekerja dengan cara yang diharapkan.
  • ·         Dukungan dan Dorongan: Seperti prinsip Tut Wuri Handayani, seorang pemimpin yang baik harus memberikan dukungan dan dorongan, memungkinkan orang lain untuk berkembang dan berkontribusi secara efektif. Filosofi Pratap Triloka mendukung ini dengan menekankan pentingnya harmoni dan integrasi dalam seluruh sistem, yang membantu dalam menciptakan lingkungan yang mendukung pertumbuhan dan inovasi.

Bagaimana nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita, berpengaruh kepada prinsip-prinsip yang kita ambil dalam pengambilan suatu keputusan?

Nilai-nilai bagi seorang guru penggerak adalah berpihak kepada murid, mandiri, kolaboratif, reflektif dan inovatif. Nilai-nilai tersebut harus ada dalam proses pengambilan keputusan. Nilai-nilai tersebut sebagai cerminan dari arah keputusan yang akan kita ambil. Seperti tujuan pengambilan harus berpihak pada murid, mandiri bagaimana kita sebagai guru merespon suatu konflik dan permasalahan yang ada, kemudian adanya kerja sama dan kolaborasi tim di dalam penyelesaian masalah, pengambilan keputusan yang selalu dievaluasi dan direfleksikan untuk perbaikan ke depannya, serta penanganan masalah dengan cara kreatif dan praktis. Selain itu, pengambilan keputusan ini juga harus berdasarkan nilai-nilai kebajikan yang lain seperti keadilan dan bertanggung jawab.

Bagaimana materi pengambilan keputusan berkaitan dengan kegiatan ‘coaching’ (bimbingan) yang diberikan pendamping atau fasilitator dalam perjalanan proses pembelajaran kita, terutama dalam pengujian pengambilan keputusan yang telah kita ambil? Apakah pengambilan keputusan tersebut telah efektif, masihkah ada pertanyaan-pertanyaan dalam diri kita atas pengambilan keputusan tersebut? Hal-hal ini tentunya bisa dibantu oleh sesi ‘coaching’ yang telah dibahas pada sebelumnya.

Coaching bertujuan untuk membantu individu atau kelompok dalam proses pengambilan keputusan dengan cara yang lebih terstruktur dan reflektif. Dalam sesi coaching, pendamping atau fasilitator akan:

·         Membantu Mengidentifikasi Tujuan: Mengarahkan klien untuk memahami tujuan mereka dengan lebih jelas, yang akan membantu dalam pengambilan keputusan yang lebih terfokus.

·         Menyediakan Perspektif Baru: Mengajukan pertanyaan yang mendorong klien untuk melihat situasi dari berbagai sudut pandang, sehingga keputusan yang diambil lebih informatif.

·         Memfasilitasi Refleksi: Membantu klien untuk merefleksikan keputusan yang telah diambil, termasuk mengevaluasi hasil dan proses pengambilan keputusan tersebut.

Coaching dengan TIRTA dapat membantu guru dan pendidik untuk mengidentifikasi permasalahan yang terjadi, sehingga dapat membantu klien untuk menyelesaikan masalahnya dengan pertanyaan-pertanyaan berbobot. Coaching Model alur TIRTA memberikan kita dukungan dalam proses pengambilan keputusan dengan memfasilitasi refleksi, evaluasi, dan pengembangan keterampilan

Bagaimana kemampuan guru dalam mengelola dan menyadari aspek sosial emosionalnya akan berpengaruh terhadap pengambilan suatu keputusan khususnya masalah dilema etika?

Pengelolaan dan kesadaran aspek sosial-emosional memainkan peran penting dalam proses pengambilan keputusan, terutama ketika menghadapi dilema etika. Guru yang mampu mengelola emosi mereka (kesadaran diri), manajemen diri, kesadaran sosial dengan rasa empati yang tinggi terhadap orang lain, tetap menjaga hubungan komunikasi baik dengan orang yang terlibat dan tetap konsisten dengan nilai-nilai etika mereka, akan membuat keputusan yang bertanggung jawab, lebih adil, rasional, dan berdampak positif bagi lingkungan pendidikan.

Bagaimana pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah moral atau etika kembali kepada nilai-nilai yang dianut seorang pendidik?

Pembahasan studi kasus yang fokus pada dilema etika danbujukan moral sangat bergantung pada nilai-nilai yang dianut pendidik. Sehingga pendidik atau guru harus memiliki nilai-nilai kebajikan universal, seperti: kebenaran, keadilan, kejujuran, integritas, tanggung jawab, empati, kemanusiaan dsb. Dengan merujuk pada nilai-nilai kebajikan universal dan profesional, pendidik dapat memastikan bahwa keputusan yang diambil tidak hanya adil dan etis tetapi juga konsisten dengan prinsip-prinsip nilai yang dianut guru.

Bagaimana pengambilan keputusan yang tepat, tentunya berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman.

Keputusan yang tepat memainkan peran penting dalam menciptakan lingkungan yang positif, kondusif, aman, dan nyaman. Dengan memastikan keadilan, membangun kepercayaan, meningkatkan kesejahteraan, dan mendukung partisipasi serta keterlibatan, keputusan yang bijaksana dan etis dapat secara signifikan mempengaruhi kualitas dan atmosfer lingkungan, baik di tempat kerja, sekolah, maupun dalam komunitas.

Apakah tantangan-tantangan di lingkungan Anda untuk dapat menjalankan pengambilan keputusan terhadap kasus-kasus dilema etika ini? Adakah kaitannya dengan perubahan paradigma di lingkungan Anda?

Tantangan dalam pengambilan keputusan terkait dilema etika sering kali terkait dengan konflik nilai, tekanan eksternal, keterbatasan informasi, kompleksitas situasi, perbedaan perspektif, dan kepatuhan terhadap regulasi. Empat paradigma dilema etika yang sering berkaitan dengan lingkungan sekolah adalah:

  • ·         Individu lawan kelompok (individual vs community)
  • ·         Rasa keadilan lawan rasa kasihan (justice vs mercy)
  • ·         Kebenaran lawan kesetiaan (truth vs loyalty)
  • ·         Jangka pendek lawan jangka panjang (short term vs long term)

Apakah pengaruh pengambilan keputusan yang kita ambil ini dengan pengajaran yang memerdekakan murid-murid kita? Bagaimana kita memutuskan pembelajaran yang tepat untuk potensi murid kita yang berbeda-beda?

Pengambilan keputusan dalam pengajaran mempunyai pengaruh yang besar terhadap kemerdekaan murid dalam proses pembelajaran. Seorang guru harus memahami kebutuhan dan potensi murid, menetapkan tujuan pembelajaran yang relevan, menerapkan pembelajaran berdiferensiasi dengan pendekatan sosial emosional. Pembelajaran berdiferensiasi dapat menjadi solusi untuk memenuhi kebutuhan belajar murid berdasarkan kesiapan belajar, minat belajar dan profil belajar murid. Memilih metode pengajaran yang tepat untuk berbagai potensi murid dapat menciptakan lingkungan yang inklusif dan mendukung pembelajaran. Dengan keputusan yang baik, pendidik dapat menciptakan pengalaman pembelajaran yang memberdayakan murid untuk mencapai potensi optimal mereka.

Bagaimana seorang pemimpin pembelajaran dalam mengambil keputusan dapat mempengaruhi kehidupan atau masa depan murid-muridnya?

Keputusan yang diambil oleh seorang pemimpin pembelajaran mempengaruhi berbagai aspek pengalaman pendidikan murid. Keputusan yang bijaksana dan berorientasi pada kebutuhan murid dapat menciptakan lingkungan belajar yang mendukung, adil, dan berkualitas.

Apakah kesimpulan akhir yang dapat Anda tarik dari pembelajaran modul materi ini dan keterkaitannya dengan modul-modul sebelumnya?

Secara keseluruhan, modul 3.1 ini menggarisbawahi hubungan erat antara pengambilan keputusan berbasis nilai-nilai kebajikan sebagai pemimpin dengan materi pada modul-modul sebelumnya. Prinsip dan paradigma dilema etika dalam pengambilan keputusan hendaknya harus berdasarkan dengan nilai-nilai kebajikan universal, bertanggung jawab dan berpihak kepada murid. Semua dasar pengambilan keputusan tersebut terdapat dalam modul sebelumnya, yaitu filosofi pemikiran Ki Hadjar Dewantara, nilai dan peran guru penggerak, dan budaya positif. Seorang guru harus memenuhi kebutuhan belajar muridnya dengan pembelajaran berdiferensiasi. Keterkaitan antara modul-modul ini menunjukkan bahwa keputusan yang bijaksana dan berbasis nilai-nilai kebajikan universal mempengaruhi kualitas pembelajaran dan hasil pendidikan murid secara menyeluruh. Integrasi aspek-aspek ini dalam praktik sehari-hari mendukung pembelajaran yang memberdayakan murid dan mempersiapkan mereka untuk masa depan dengan lebih baik.

Sejauh mana pemahaman Anda tentang konsep-konsep yang telah Anda pelajari di modul ini, yaitu: dilema etika dan bujukan moral, 4 paradigma pengambilan keputusan, 3 prinsip pengambilan keputusan, dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan. Adakah hal-hal yang menurut Anda di luar dugaan?

A. Dilema etika (benar vs benar) adalah situasi yang terjadi ketika seseorang harus memilih antara dua pilihan dimana kedua pilihan secara moral benar tetapi bertentangan. Sementara itu, bujukan moral (benar vs salah) yaitu situasi yang terjadi ketika seseorang harus membuat keputusan antara benar dan salah.

B. Empat paradigma pengambilan keputusan

  • ·         Individu lawan kelompok (individual vs community)
  • ·         Rasa keadilan lawan rasa kasihan (justice vs mercy)
  • ·         Kebenaran lawan kesetiaan (truth vs loyalty)
  • ·         Jangka pendek lawan jangka panjang (short term vs long term)

 C. Tiga prinsip pengambilan keputusan

  • ·         Berpikir Berbasis Hasil Akhir (Ends-Based Thinking)
  • ·         Berpikir Berbasis Peraturan (Rule-Based Thinking)
  • ·         Berpikir Berbasis Rasa Peduli (Care-Based Thinking)

 D. Sembilan langkah pengambilan keputusan

  • 1.       Mengenali nilai yang bertentangan
  • 2.       Menentukan pihak yang terlibat
  • 3.       Mengumpulkan fakta-fakta yang relevan dengan situasi
  • 4.       Pengujian benar atau salah
  • 5.       Pengujian paradigma benar lawan benar
  • 6.       Melakukan prinsip resolusi
  • 7.       Investigasi opsi trilema
  • 8.       Buat keputusan
  • 9.       Lihat lagi keputusan dan refleksikan.

Hal-hal di luar dugaan saya adalah dalam mengambil keputusan sebagai guru atau pendidik kita diharuskan untuk memahami lebih dalam tentang masalah atau kasus dari perspektif yang berbeda. Karena dalam dilema etika terdapat nilai-nilai yang sama-sama benar tetapi saling bertentangan, dan dalam kasus bujukan moral terdapat nilai benar vs salah.

Sebelum mempelajari modul ini, pernahkah Anda menerapkan pengambilan keputusan sebagai pemimpin dalam situasi moral dilema? Bilamana pernah, apa bedanya dengan apa yang Anda pelajari di modul ini?

Belum pernah.

Bagaimana dampak mempelajari konsep ini buat Anda, perubahan  apa yang terjadi pada cara Anda dalam mengambil keputusan sebelum dan sesudah mengikuti pembelajaran modul ini?

Dampak yang saya dapatkan setelah mempelajari modul 3.1 ini adalah saya memiliki pengetahuan tentang pengambilan keputusan dalam kasus dilema etika dan bujukan moral lebih bijaksana dan reflektif, dengan pertimbangan yang mendalam tentang etika, prinsip, dan proses pengambilan keputusan.

Seberapa penting mempelajari topik modul ini bagi Anda sebagai seorang individu dan Anda sebagai seorang pemimpin?

Sangat penting karena memberikan dasar pengetahuan bagi saya untuk pengambilan keputusan yang adil, bijaksana, dan bertanggung jawab baik sebagai individu maupun sebagai pemimpin. Sebagai individu, modul ini membantu saya belajar dalam membuat keputusan yang lebih bijaksana dan konsisten dengan nilai-nilai kebajikan universal yang saya yakini. Sebagai pemimpin, topik modul 3.1 ini meningkatkan kemampuan saya untuk memimpin dengan adil dan efektif, serta dapat menciptakan lingkungan belajar yang positif bagi siswa.

 

Wednesday, October 16, 2024

CONTOH CERITA MINI PECAHAN SENILAI

 1. Pizza Party yang Adil

Andi dan Beni punya pizza besar. Mereka ingin membaginya sama rata. Andi memotong pizza menjadi 8 bagian sama besar, sementara Beni memotong pizza miliknya menjadi 4 bagian sama besar. “Kalau kita gabung semua potongannya, kita punya banyak sekali potongan pizza!” seru Andi. Ibu mereka tersenyum, “Benar sekali, Nak. Meskipun potongannya berbeda-beda, tapi jumlah pizzanya tetap sama. Itu artinya, potongan-potongan pizza kalian itu senilai.”

2. Kue Ulang Tahun yang Spesial

Ani membuat kue ulang tahun berbentuk persegi panjang. Ia memotong kue menjadi 12 bagian sama besar untuk dibagikan kepada teman-temannya. Dina hanya mendapat 3 potong. “Wah, aku dapat banyak!” seru Dino yang mendapat 4 potong. Ani menjelaskan, “Meskipun potongannya berbeda, tapi kita semua mendapat bagian yang sama besar dari kue. Jadi, 3 potong milikmu sama nilainya dengan 4 potong milik Dino.”

3. Membagi Apel

Buah apel merah besar dibagi menjadi 6 bagian sama besar. Andi mendapat 2 bagian, Beni 3 bagian, dan Cici 1 bagian. “Aku dapat bagian paling sedikit!” keluh Cici. Ibu mereka menjelaskan, “Meskipun potongannya berbeda, tapi semua bagian apel sama besar. Jadi, kalian semua mendapat bagian yang sama dari apel ini.”

4. Membagi Cokelat

Sebuah cokelat batang dibagi menjadi 10 bagian sama besar. Andi mendapat 2 bagian, Beni 3 bagian, dan Cici 5 bagian. “Aku dapat bagian paling banyak!” seru Cici dengan senang. Ibu mereka tersenyum, “Benar sekali, Nak. Meskipun potongannya berbeda, tapi semua bagian cokelat sama besar. Jadi, kalian semua mendapat bagian yang berbeda dari cokelat ini, tapi semuanya sama nilainya.”

5. Membagi Permen

Sebungkus permen dibagi menjadi 8 bagian sama besar. Andi mendapat 2 bagian, Beni 3 bagian, dan Cici 3 bagian. “Aku dan Beni dapat bagian yang sama!” seru Beni. Ibu mereka menjelaskan, “Benar sekali, Nak. Meskipun kalian berdua mendapat jumlah potongan yang sama, tapi jumlah total permen yang kalian dapatkan juga sama.”

Pesan dari cerita-cerita ini:

  • Pecahan senilai: Meskipun potongan atau bagiannya berbeda, nilai dari bagian-bagian tersebut bisa sama.
  • Membagi secara adil: Membagi sesuatu menjadi bagian yang sama besar adalah cara yang adil.
  • Memahami konsep pecahan: Cerita-cerita ini membantu anak-anak memahami konsep pecahan dengan cara yang menyenangkan dan mudah diingat.

Friday, August 2, 2024

MODUL 1.4 MULAI DARI DIRI Apa pentingnya menciptakan suasana positif di lingkungan Anda?

 Apa pentingnya menciptakan suasana positif di lingkungan Anda?

Seorang guru diharapkan mampu menciptakan suasana positif di lingkungan belajar siswa karena dengan menciptakan lingkungan positif ada manfaat yang didapat dan berberdampak secara signifikan pada proses pembelajaran dan perkembangan siswa. Berikut adalah beberapa alasan pentingnya seorang guru menciptakan suasana positif di lingkungan belajar:

  1. Meningkatkan Motivasi Belajar: Suasana yang positif dapat meningkatkan motivasi siswa untuk belajar. Ketika siswa merasa dihargai dan didukung, mereka lebih termotivasi untuk berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran.

  2. Meningkatkan Keterlibatan Aktif Siswa: Lingkungan yang positif mendorong keterlibatan siswa. Mereka lebih cenderung berpartisipasi aktif dalam diskusi, bertanya, dan berinteraksi dengan teman sekelas dan guru.

  3. Meningkatkan Emosional Positif Siswa: Suasana positif membantu mengurangi stres dan kecemasan, meningkatkan  emosional  positif siswa. 

  4. Meningkatkan Prestasi Akademik Siswa: Ketika siswa merasa nyaman dan didukung, maka siswa cenderung mencapai prestasi akademik yang lebih tinggi. Lingkungan yang positif dapat meningkatkan konsentrasi, pemahaman, dan retensi materi.

  5. Mendorong Kerjasama dan Kolaborasi Antar Siswa: Suasana positif mempromosikan kerjasama dan kolaborasi antar siswa. Mereka lebih cenderung bekerja sama, berbagi ide, dan membantu satu sama lain dalam belajar.

  6. Mengembangkan Keterampilan Sosial: Lingkungan yang mendukung dan positif membantu siswa mengembangkan keterampilan sosial, seperti empati, komunikasi, dan kerja tim. Ini penting untuk perkembangan pribadi dan profesional mereka di masa depan.

  7. Meningkatkan Kreativitas dan Inovasi: Suasana yang mendukung memungkinkan siswa merasa aman untuk bereksperimen dan mengemukakan ide-ide baru. Ini mendorong kreativitas dan inovasi dalam proses pembelajaran.

  8. Mengurangi Konflik Antar Warga sekolah: Lingkungan yang harmonis dan positif dapat mengurangi konflik dan meningkatkan penyelesaian masalah secara konstruktif. Ini menciptakan atmosfer yang lebih damai dan kondusif untuk belajar.

  9. Meningkatkan Hubungan Positif Guru-Siswa, Siswa-Siswa: Suasana yang positif memperkuat hubungan antara guru dan siswa. Hubungan yang baik ini dapat meningkatkan kepercayaan dan komunikasi, yang pada gilirannya meningkatkan pengalaman belajar siswa.

Dengan menciptakan suasana positif di lingkungan belajar, kita dapat memastikan bahwa siswa merasa didukung, termotivasi, dan siap untuk mencapai potensi maksimal mereka. Ini tidak hanya berdampak pada prestasi akademik tetapi juga pada perkembangan pribadi dan sosial mereka.


Sebagai seorang pendidik dan/atau pimpinan sekolah, bagaimana Anda dapat menciptakan suasana positif di lingkungan Anda selama ini?

Pendekatan yang telah saya laksanakan dalam menciptakan suasana positif di lingkungan saya diantaranya adalah :

  • berusaha membangun hubungan yang baik dengan siswa dengan cara mengenal siswa secara pribadi( potensi, minat belajar dan latar belakangnya),
  • membangun komunikasi yang terbuka, aman, nyaman bagi siswa. 
  • menciptakan suasana fisik kelas yang aman, bersih, teratur dan indah
  • menghargai dan mengakui setiap pencapaian siswa serta memberikan umpan balik
  • berusaha untuk memberikan keteladan positif bagi siswa serta berusaha konsisten dan obyektif dalam menerapkan peraturan kelas dan kebijakan kelas 
  • berusaha melibatkan wali murid dalam proses pendidikan putra-putrinya

Apakah hubungan antara menciptakan suasana yang positif dengan proses pembelajaran yang berpihak pada murid?

 Suasana yang positif di kelas membuat siswa merasa aman, nyaman, dihargai, dan didukung, kebutuhan belajar siswa terpenuhi hal ini dapat meningkatkan motivasi siswa dalam belajar, meningkatkan keaktifan siswa dan pada akhirnya mampu meningkatkan hasil belajar siswa baik secara akademik maupun sosial emosional

Bagaimana penerapan disiplin saat ini di sekolah Anda, apakah sudah diterapkan dengan efektif, bila belum, apa yang menurut Anda masih perlu diperbaiki dan dikembangkan?

Alhamdulillah, di sekolah saya telah menerapkan disiplin dengan baik, namun ada hal yang masih perlu diperbaiki dan dikembangkan diantaranya :

  • aturan yang jelas dan konsisten 
  • mediasi, konseling dan perbaikan hubungan setelah penyelesaian masalah/pelanggaran tata tertib
  • disiplin dan kebijakan yang adaptif ( memahami perbedaaan/keragaman latar belakang siswa dalam penerapan disiplin )

Monday, July 29, 2024

BACAAN-BACAAN DZIKIR SESUDAH SHOLAT FARDHU

  •  Membaca istighfar sebanyak tiga kali [HR. Ahmad], ّٰللا َ هفر غ ت س أ )٣x)ُ Astagfirullaah (3x) Aku memohon ampun kepada Allah 
  • Membaca dzikir allhumma antasSalaam…, [HR. Muslim]

 ا ياذ ت ك ار ب , ت م ال السَ ك همن , و م ال السَ ت ن أ َ م ه َ لل ا ه ام ر هإلك ا هل و ال ج ال

 Allahuma antas-salaam wa minkassalaam tabaarakta yaa dzal-Jalaali walIkraam 

Ya Allah, Engkau Maha Damai dan dariMu (datang) kedamaian; Maha pemilik segala keberkahan wahai Allah, Tuhan pemilik keagungan dan kemuliaan.

  • membaca dzikir, [HR. Muslim]

Laa ilaaha ilallaahu wahdahu laa syariika lahu, lahul-mulku wa lahul-hamdu, biyadihil-khairi, wa huwa ‘alaa kulli syai`in qadiir. Laa haula wa laa quwwata illaa billaahi, laa ilaaha illallaahu, wa laa na’budu illaa iyyaahu, lahun-ni’mah wa lahul fadhlu wa lahuts-tsanaa`ul-husna, laa ilaaha illallaahu mukhlishiina lahuddiina wa law karihal-kaafiruuna. 

Tiada tuhan yang berhak diibadahi selain Allah, tiada sekutu bagi-Nya, bagi-Nya segala kerajaan dan pujian, Di tanganNya kebaikan, Dia-lah Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu. Tiada daya dan upaya serta kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah dan kami tidak beribadah kecuali kepada Allah, milikNya-lah segala kenikmatan, karunia, dan sanjungan yang baik, tiada tuhan yang berhak diibadahi selain Allah, kami mengikhlashkan agama untuk-Nya walaupun orang-orang kafir benci.

  • Membaca dzikir berikut, [HR. Ahmad]

Allahumma laa maani‘a limaa a‘athaita walaa mu‘athiya limaa mana‘tha wa laa yanfa‘u dzal-jaddu minkal jaddu.

Ya Allah tidak ada satu pun yang dapat menghalangi apa saja yang telah Engkau berikan, dan tidak ada satu pun yang mampu memberi apa saja yang Engkau cegah., dan tidak ada satu pun kekayaan yang dimiliki seseorang dapat berguna untuk menyelamatkan dari-Mu  

  • Membaca ayat kursi, [HR. Al-Thabrani]

Allahu laa ilaaha illaa huwa, al-hayyulqayyuum, laa ta`khudzuhu sinatuw-wa laa nauum. Lahuu maa fis-samaawaati wa maa fil-ardhi, man dzal-ladzii yasyfa‘u ‘indahuuu illaa bi`idznih, ya’lamu maa baina aydiihim wa maa khalfahum, wa laa yuhiithuuna bi syai`im-min ‘ilmihii illaa bimaa syaa`, wasi‘a kursiyyuhussamaawaati wal-ardhi, wa laa ya`uduhuu hifzhuhumaa wa huwal-‘aliyyul-‘azhiim.

Allah, tidak ada tuhan selain Dia, Yang Mahahidup lagi terus-menerus mengurus (makhluk-Nya). Dia tidak dilanda oleh kantuk dan tidak (pula) oleh tidur. MilikNyalah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Tidak ada yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya tanpa izinNya. Dia mengetahui apa yang ada di hadapan mereka dan apa yang ada di belakang mereka. Mereka tidak mengetahui sesuatu apa pun dari ilmuNya, kecuali apa yang Dia kehendaki. Kursi-Nya (ilmu dan kekuasaan-Nya) meliputi langit dan bumi. Dia tidak merasa berat memelihara keduanya. Dialah yang Mahatinggi lagi Mahaagung.

  • Membaca Allahumma a‘inniii…, [HR. AlHakim].

Allahumma a‘innii ‘alaa dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibaadatika

 Ya Allah tolonglah aku dalam mengingatMu, dan bersyukur pada-Mu dan beribadah secara baik kepada-Mu.  

  • Membaca tasbiih 33 kali; tahmiid 33 kali; takbiir 33 kali serta laa ilaaha illallaahu…, [HR. Muslim]
  • Membaca doa Allohumma laa sahla
  • Doa orang tua dan kebaikan dunia akhirat
  • Membaca surah al-Ikhlas, al-Falaq dan al-Nas. [HR. Abu Dawud, al-Nasa`i dan Ahmad]  

   


Wednesday, July 3, 2024

1.2.f.1. Forum Diskusi Eksplorasi Konsep - Modul 1.2

Sebagai seorang calon Guru Penggerak, salah satu nilai yang telah saya pelajari sangat membantu saya dalam melayani murid dengan lebih baik adalah "berpihak pada murid." Nilai ini telah mengubah cara saya memandang dan menangani kebutuhan serta potensi setiap siswa di kelas.

Misalnya, beberapa bulan yang lalu, saya memiliki seorang siswa bernama Daffaa yang selalu tampak kesulitan mengikuti  matematika dan mata pelajaran lainnya dikarenakan belum bisa membaca dan ketinggalan dalam numerasi. Sebelum memahami nilai berpihak pada murid, mungkin saya akan hanya berfokus pada upaya untuk membuat Daffa  "mengejar" ketertinggalannya dengan tambahan tugas dan latihan. Namun, dengan nilai ini, saya mencoba pendekatan yang berbeda.

Saya mulai dengan mengadakan percakapan personal dengan Daffa untuk memahami apa yang menjadi tantangan baginya. Ternyata, Daffa merasa belajar itu menakutkan dan dia merasa terintimidasi oleh kecepatan teman-temannya yang lain. Dari sini, saya menyadari bahwa yang Daffa butuhkan bukanlah lebih banyak latihan, tetapi cara belajar yang sesuai dengan kemampuannya.

Saya kemudian menyesuaikan metode pengajaran saya. Saya membuat materi yang lebih visual dan interaktif untuk Daffa, serta memberinya kesempatan untuk belajar dalam kelompok kecil di mana dia merasa lebih nyaman. Saya juga memberikan waktu tambahan untuk Daffa memahami konsep tanpa tekanan harus segera mengejar teman-temannya.

Hasilnya sangat menggembirakan. Perlahan, Daffa mulai menunjukkan peningkatan. Kepercayaan dirinya tumbuh, dan dia tidak lagi merasa takut terhadap matematika dan pelajaran . Dia bahkan mulai menikmati pelajaran dan aktif berpartisipasi dalam diskusi kelas.

Pengalaman ini mengajarkan saya bahwa dengan berpihak pada murid, kita tidak hanya membantu mereka mengatasi kesulitan akademis, tetapi juga membangun rasa percaya diri dan semangat belajar mereka. Melalui pendekatan yang lebih personal dan empatik, kita dapat menciptakan lingkungan belajar yang benar-benar mendukung setiap siswa untuk berkembang sesuai dengan potensi mereka. 

2. 10 Kegiatan Sekolah contoh penerapan dari peran Guru Penggerak (GP) :

  • Membangun Budaya Belajar yang Positif:
    • Mengadakan sesi refleksi dan sharing pengalaman belajar antar guru untuk saling berbagi praktik baik dan tantangan.
  • Mengembangkan Kurikulum dan Pembelajaran Inovatif:
    • Membuat dan menerapkan proyek pembelajaran berbasis masalah (problem-based learning) yang melibatkan siswa dalam pemecahan masalah nyata di lingkungan sekitar.
  • Mendorong Keterlibatan Komunitas dalam Pembelajaran:
    • Mengundang orang tua dan masyarakat untuk berpartisipasi dalam kegiatan sekolah seperti seminar, lokakarya, atau proyek kolaboratif.
  • Mentor bagi Guru Lain:
    • Melakukan pendampingan atau mentoring kepada guru-guru baru atau yang membutuhkan bantuan dalam menerapkan metode pembelajaran yang efektif.
  • Meningkatkan Keterampilan Berpikir Kritis Siswa:
  • Menyusun kegiatan debat atau diskusi panel yang mengasah kemampuan siswa dalam berpikir kritis dan berargumentasi dengan baik.
  • Penggunaan Teknologi dalam Pembelajaran:

Mengadakan pelatihan bagi guru dan siswa tentang penggunaan teknologi digital untuk pembelajaran, seperti penggunaan platform e-learning atau aplikasi edukatif.

  • Peningkatan Keterampilan Sosial dan Emosional Siswa:

Menyusun program pengembangan keterampilan sosial dan emosional, seperti sesi konseling, permainan peran, atau kegiatan layanan masyarakat.

  • Pengembangan Program Extracurricular:

Membuat klub atau organisasi siswa yang mendukung pengembangan bakat dan minat siswa, seperti klub sains, seni, atau olahraga.

  • Penilaian Autentik:

Mengembangkan dan menerapkan metode penilaian autentik yang lebih menekankan pada proses dan hasil belajar siswa secara menyeluruh, bukan hanya hasil tes tertulis.

  • Pengembangan Profesional Berkelanjutan:

Mengadakan pelatihan berkelanjutan bagi para guru tentang strategi pembelajaran terbaru, penelitian pendidikan, dan isu-isu pendidikan global.